Sabtu, 11 Mei 2013

"KARUNIA SEKEJAP" (ips)

Kemuning cahya rembulan kembali menghias langit
Dalam kegelapan jagat raya, beribu bintang masih berkelip
Disela kesunyian malam, muncul seraut wajah bercahya
suatu karunia yang membuat hatiku terusik
mencoba memugar kembali keberanian yang telah membeku
puing yang tersisa, kukumpulkan satu demi satu

Sekejap aku terpana ...
Cahya itu melambung dan terus meninggi
namun wanginya masih tercium di sisi hati
Lengkingan panggilanku membeku di langit hening
terhempas pada rembulan dan hancur berkeping

Rindu dendamku ...
Ketidakberdayaanku ...

Tuhan, aku masih berharap melihat wajah itu lagi
karena dia adalah satu di antara keindahan dunia yang pernah kutemukan

Tapi aku pasrah ...
Tuhan ... aku begitu alit





Kamis, 09 Mei 2013

"AWAL DARI SEBUAH RASA" (irbf)

Senyum manis ada di jabat tangan kita
tatap mata lembut mengusik debur jantung
Dan gemetaran keringat di dahi
menambah kehangatan yang tercipta

Adakah hatimu tahu
bahwa gambar dirimu mengganggu tidur lelapku
menghentak-hentak menyengat keberanian
membuatku tertunduk tersenyum getir
memaki-maki badut yang -seakan- menertawaiku

Lalu aku pun pasrah menanti kesadaranmu
karena aku menyadari jika keberanianku
hanya ada di dalam angan

...

Tapi aku sungguh ternganga tak percaya
ketika kaki indahmu menjajari langkah-langkahku
ketika kerling mata indahmu menyentuh lubuk hatiku
ketika jemari lembutmu membenahi pakaianku
dan ketika kau berikan bunga rumput itu untukku
... Tuhan, benarkah karunia ini untukku?

Sesaat aku terlena oleh keniscayaan semua ini
Melonjak setinggi langit karena senyummu
Menari-nari bersama tawamu
... ingin kunikmati selamanya

Aku tersentak kemudian
saat memandang gambar diri di cermin
Meraba dan merasa ... benarkah cermin tidak berbohong?
mencoba mencari tahu kebenaran bias cahaya itu
ahhhhh ... kenyataan ini menyarankan aku mengangkat tangan pasrah

Luruh satu kembang yang telah bersiap mekar
memperpanjang daftar kepengecutan anak manusia

Tuhan ... aku mengikuti kehendak-Mu
tak akan kusebut namanya dalam do'a-do'aku
Akan kubuang jauh perasaan sesal di jiwa
kukuburkan dalam lubang kepengecutan tergelap

Tuhan ... kunanti karunia-Mu berikutnya

MUSIM BERGANTI MUSIM

... Lalu musim berganti musim. Ada saat gersang kemarau menyayat rasaku. Pohon-pohon meranggas dan daun-daun berguguran. Tanah terpanggang terbelah lukisan nuansa hati. Aku pasrah saat angin kemarau goyahkan pijakan, udara kering sesakkan rongga dada. Tapi kudapati juga rinai hujan menyirami rasaku. Pohon-pohon kembali menghijau serta dedaunan bersemi. Basah tanah menyuburkan lembah hati. Aku tertawa saat angin penghujan mengusap wajah, hawa dingin meresap di kalbu ...

... Semusim berakhir, semusim datang mengganti ...

... Aku jadi pengelana menyusuri lorong waktu. Berkeinginan melakukan penakhlukan tebing-tebing jiwa yang menjulang tinggi di setiap tempat. Kudaki satu demi satu hingga terengkuh hati yang bersinar indah di ruangnya. Kuheningkan wajah tersipu dengan magis sentuhan kalbu terlembut. Hayalan pun terbuai membangun mimpi-mimpi saat kabut masih menyelimuti. Ada batu sandungan yang menghadang. Sesaat kemudian tangis terisak lirih di sudut mata yang meredup. Sakit ... serasa sukma tercabut dari raga. Tapi maki tak kuasa terucap, dendam tak kuasa bersemayam. Sementara aku dibiarkan melenggang dengan memikul kesalahan yang terus terkumpul untuk penakhlukan selanjutnya. Lalu musim pun berganti musim ...