... Lalu musim berganti musim. Ada saat gersang kemarau menyayat rasaku. Pohon-pohon meranggas dan daun-daun berguguran. Tanah terpanggang terbelah lukisan nuansa hati. Aku pasrah saat angin kemarau goyahkan pijakan, udara kering sesakkan rongga dada. Tapi kudapati juga rinai hujan menyirami rasaku. Pohon-pohon kembali menghijau serta dedaunan bersemi. Basah tanah menyuburkan lembah hati. Aku tertawa saat angin penghujan mengusap wajah, hawa dingin meresap di kalbu ...
... Semusim berakhir, semusim datang mengganti ...
... Aku jadi pengelana menyusuri lorong waktu. Berkeinginan melakukan penakhlukan tebing-tebing jiwa yang menjulang tinggi di setiap tempat. Kudaki satu demi satu hingga terengkuh hati yang bersinar indah di ruangnya. Kuheningkan wajah tersipu dengan magis sentuhan kalbu terlembut. Hayalan pun terbuai membangun mimpi-mimpi saat kabut masih menyelimuti. Ada batu sandungan yang menghadang. Sesaat kemudian tangis terisak lirih di sudut mata yang meredup. Sakit ... serasa sukma tercabut dari raga. Tapi maki tak kuasa terucap, dendam tak kuasa bersemayam. Sementara aku dibiarkan melenggang dengan memikul kesalahan yang terus terkumpul untuk penakhlukan selanjutnya. Lalu musim pun berganti musim ...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar