Senyum manis ada di jabat tangan kita
tatap mata lembut mengusik debur jantung
Dan gemetaran keringat di dahi
menambah kehangatan yang tercipta
Adakah hatimu tahu
bahwa gambar dirimu mengganggu tidur lelapku
menghentak-hentak menyengat keberanian
membuatku tertunduk tersenyum getir
memaki-maki badut yang -seakan- menertawaiku
Lalu aku pun pasrah menanti kesadaranmu
karena aku menyadari jika keberanianku
hanya ada di dalam angan
...
Tapi aku sungguh ternganga tak percaya
ketika kaki indahmu menjajari langkah-langkahku
ketika kerling mata indahmu menyentuh lubuk hatiku
ketika jemari lembutmu membenahi pakaianku
dan ketika kau berikan bunga rumput itu untukku
... Tuhan, benarkah karunia ini untukku?
Sesaat aku terlena oleh keniscayaan semua ini
Melonjak setinggi langit karena senyummu
Menari-nari bersama tawamu
... ingin kunikmati selamanya
Aku tersentak kemudian
saat memandang gambar diri di cermin
Meraba dan merasa ... benarkah cermin tidak berbohong?
mencoba mencari tahu kebenaran bias cahaya itu
ahhhhh ... kenyataan ini menyarankan aku mengangkat tangan pasrah
Luruh satu kembang yang telah bersiap mekar
memperpanjang daftar kepengecutan anak manusia
Tuhan ... aku mengikuti kehendak-Mu
tak akan kusebut namanya dalam do'a-do'aku
Akan kubuang jauh perasaan sesal di jiwa
kukuburkan dalam lubang kepengecutan tergelap
Tuhan ... kunanti karunia-Mu berikutnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar