Selasa, 09 Juli 2013
... YANG KURASA ...
aku belum mengerti empat penjuru yang ada
kakiku melangkah hanya bersama semilir angin membawa
sementara sejuk embun samar terasa
lagu cinta yang kau gumamkan mulai bergema
lenakanku hingga tersibak kabut tipis di mata
dan aku pun terpana
dari mana keberanian ini muncul tiba-tiba?
hingga anganku merasakan hangat nafasmu di dada
wahai merpati yang terbang tinggi ...
pinjamkan sayapmu pada kami
... agar dapat kucapai pelangi
duhai kupu-kupu yang terbang kian-kemari
menarilah bersama kami di sini
... hiaskan warna-warni berseri
aku berpijak entah di mana sekarang ...
pikiranku terbang anganku melayang ...
Selasa, 25 Juni 2013
EPISODE COBA KUGANTI
Tak ada rintik hujan hari ini
atau pun sekuntum melati di tanganku yang mewangi
saat kurengkuh tubuhmu dalam dekapan
seraya membisikkan serangkai kata dengan lirih tertahan:
"Aku tak bisa menjanjikan apa pun meski sebuah kepastian,
tapi akan kucoba untuk berubah perlahan."
Matahari musim kemarau membuat gerah jiwaku
mengharukan hati menyisakan ragu
Apa yang sedang terjadi ini?
satu episode sudah harus tersingkir pergi
dan satu episode lain sudah tersaji
tapi sanggupkah aku mengubag peranku?
Hampa anganku tak tahu arah angin ke mana
kulihat kupu-kupu menari tanpa irama
dan awan putih tersingkir ke tepi langit merana
Aku tak sadar ...
Aku tak mengerti ...
Pikiranku di alam maya ...
atau pun sekuntum melati di tanganku yang mewangi
saat kurengkuh tubuhmu dalam dekapan
seraya membisikkan serangkai kata dengan lirih tertahan:
"Aku tak bisa menjanjikan apa pun meski sebuah kepastian,
tapi akan kucoba untuk berubah perlahan."
Matahari musim kemarau membuat gerah jiwaku
mengharukan hati menyisakan ragu
Apa yang sedang terjadi ini?
satu episode sudah harus tersingkir pergi
dan satu episode lain sudah tersaji
tapi sanggupkah aku mengubag peranku?
Hampa anganku tak tahu arah angin ke mana
kulihat kupu-kupu menari tanpa irama
dan awan putih tersingkir ke tepi langit merana
Aku tak sadar ...
Aku tak mengerti ...
Pikiranku di alam maya ...
Senin, 24 Juni 2013
RONTOK SEBUAH HARAPAN (ips)
Dan sepi pun kembali mendatangi pagiku
saat burung dalam sangkar bernyanyi pilu
serta pipit yang mencari hinggapan berkicau parau
Ada rindu yang kemudian mengetuk-ketuk jendela hati
mendera-dera angan lalu melambungkan hayal ini
pada gambar seraut wajah yang melirik malu
Mengertikah apa yang sebenarnya terjadi?
Padahal musim telah berganti dan kupu-kupu menari
gersang kemarau berubah tanah basah kini
Sedang aku masih menanti sekelebat bayangan namun dia tak datang di sisi
... Ternyata langit tetap membiru
awan putihnya bawa berita yang menyayat rasaku
perih sekali ...
Penantianku selama daun gugur dan bersemi kembali
senantiasa kulukis indah bayangan dalam benakku
membangun hayalan saat berbaring menatap awang-awang
sambil memaki pertemuan yang pernah terjadi dulu
ah ... sepi ini biarlah sepi
Bila malam nanti rasa ini masih juga menyelimuti
maka terpaksa kan kuikuti ke mana arah angan membawa
melayang ke telaga bening atau kertas surat tersimpan
mengurai sedikit harapan yang terlunta-lunta
Dan tertatih kembali aku pun terpekur
tak jua bisa lari dari kegelisahan
Lalu hanya kunikmati kerinduan ini ... sendiri
Seandainya esok rindu ini kembali mengetuk-ketuk jendela hati
Lalu kunanti sekelebat bayangan namun dia tak datang di sisi
Maka sepi ini biarlah tetap sepi
Karena akan kunikmati kerinduan ini ... sendiri
saat burung dalam sangkar bernyanyi pilu
serta pipit yang mencari hinggapan berkicau parau
Ada rindu yang kemudian mengetuk-ketuk jendela hati
mendera-dera angan lalu melambungkan hayal ini
pada gambar seraut wajah yang melirik malu
Mengertikah apa yang sebenarnya terjadi?
Padahal musim telah berganti dan kupu-kupu menari
gersang kemarau berubah tanah basah kini
Sedang aku masih menanti sekelebat bayangan namun dia tak datang di sisi
... Ternyata langit tetap membiru
awan putihnya bawa berita yang menyayat rasaku
perih sekali ...
Penantianku selama daun gugur dan bersemi kembali
senantiasa kulukis indah bayangan dalam benakku
membangun hayalan saat berbaring menatap awang-awang
sambil memaki pertemuan yang pernah terjadi dulu
ah ... sepi ini biarlah sepi
Bila malam nanti rasa ini masih juga menyelimuti
maka terpaksa kan kuikuti ke mana arah angan membawa
melayang ke telaga bening atau kertas surat tersimpan
mengurai sedikit harapan yang terlunta-lunta
Dan tertatih kembali aku pun terpekur
tak jua bisa lari dari kegelisahan
Lalu hanya kunikmati kerinduan ini ... sendiri
Seandainya esok rindu ini kembali mengetuk-ketuk jendela hati
Lalu kunanti sekelebat bayangan namun dia tak datang di sisi
Maka sepi ini biarlah tetap sepi
Karena akan kunikmati kerinduan ini ... sendiri
Sabtu, 11 Mei 2013
"KARUNIA SEKEJAP" (ips)
Kemuning cahya rembulan kembali menghias langit
Dalam kegelapan jagat raya, beribu bintang masih berkelip
Disela kesunyian malam, muncul seraut wajah bercahya
suatu karunia yang membuat hatiku terusik
mencoba memugar kembali keberanian yang telah membeku
puing yang tersisa, kukumpulkan satu demi satu
Sekejap aku terpana ...
Cahya itu melambung dan terus meninggi
namun wanginya masih tercium di sisi hati
Lengkingan panggilanku membeku di langit hening
terhempas pada rembulan dan hancur berkeping
Rindu dendamku ...
Ketidakberdayaanku ...
Tuhan, aku masih berharap melihat wajah itu lagi
karena dia adalah satu di antara keindahan dunia yang pernah kutemukan
Tapi aku pasrah ...
Tuhan ... aku begitu alit
Dalam kegelapan jagat raya, beribu bintang masih berkelip
Disela kesunyian malam, muncul seraut wajah bercahya
suatu karunia yang membuat hatiku terusik
mencoba memugar kembali keberanian yang telah membeku
puing yang tersisa, kukumpulkan satu demi satu
Sekejap aku terpana ...
Cahya itu melambung dan terus meninggi
namun wanginya masih tercium di sisi hati
Lengkingan panggilanku membeku di langit hening
terhempas pada rembulan dan hancur berkeping
Rindu dendamku ...
Ketidakberdayaanku ...
Tuhan, aku masih berharap melihat wajah itu lagi
karena dia adalah satu di antara keindahan dunia yang pernah kutemukan
Tapi aku pasrah ...
Tuhan ... aku begitu alit
Kamis, 09 Mei 2013
"AWAL DARI SEBUAH RASA" (irbf)
Senyum manis ada di jabat tangan kita
tatap mata lembut mengusik debur jantung
Dan gemetaran keringat di dahi
menambah kehangatan yang tercipta
Adakah hatimu tahu
bahwa gambar dirimu mengganggu tidur lelapku
menghentak-hentak menyengat keberanian
membuatku tertunduk tersenyum getir
memaki-maki badut yang -seakan- menertawaiku
Lalu aku pun pasrah menanti kesadaranmu
karena aku menyadari jika keberanianku
hanya ada di dalam angan
...
Tapi aku sungguh ternganga tak percaya
ketika kaki indahmu menjajari langkah-langkahku
ketika kerling mata indahmu menyentuh lubuk hatiku
ketika jemari lembutmu membenahi pakaianku
dan ketika kau berikan bunga rumput itu untukku
... Tuhan, benarkah karunia ini untukku?
Sesaat aku terlena oleh keniscayaan semua ini
Melonjak setinggi langit karena senyummu
Menari-nari bersama tawamu
... ingin kunikmati selamanya
Aku tersentak kemudian
saat memandang gambar diri di cermin
Meraba dan merasa ... benarkah cermin tidak berbohong?
mencoba mencari tahu kebenaran bias cahaya itu
ahhhhh ... kenyataan ini menyarankan aku mengangkat tangan pasrah
Luruh satu kembang yang telah bersiap mekar
memperpanjang daftar kepengecutan anak manusia
Tuhan ... aku mengikuti kehendak-Mu
tak akan kusebut namanya dalam do'a-do'aku
Akan kubuang jauh perasaan sesal di jiwa
kukuburkan dalam lubang kepengecutan tergelap
Tuhan ... kunanti karunia-Mu berikutnya
tatap mata lembut mengusik debur jantung
Dan gemetaran keringat di dahi
menambah kehangatan yang tercipta
Adakah hatimu tahu
bahwa gambar dirimu mengganggu tidur lelapku
menghentak-hentak menyengat keberanian
membuatku tertunduk tersenyum getir
memaki-maki badut yang -seakan- menertawaiku
Lalu aku pun pasrah menanti kesadaranmu
karena aku menyadari jika keberanianku
hanya ada di dalam angan
...
Tapi aku sungguh ternganga tak percaya
ketika kaki indahmu menjajari langkah-langkahku
ketika kerling mata indahmu menyentuh lubuk hatiku
ketika jemari lembutmu membenahi pakaianku
dan ketika kau berikan bunga rumput itu untukku
... Tuhan, benarkah karunia ini untukku?
Sesaat aku terlena oleh keniscayaan semua ini
Melonjak setinggi langit karena senyummu
Menari-nari bersama tawamu
... ingin kunikmati selamanya
Aku tersentak kemudian
saat memandang gambar diri di cermin
Meraba dan merasa ... benarkah cermin tidak berbohong?
mencoba mencari tahu kebenaran bias cahaya itu
ahhhhh ... kenyataan ini menyarankan aku mengangkat tangan pasrah
Luruh satu kembang yang telah bersiap mekar
memperpanjang daftar kepengecutan anak manusia
Tuhan ... aku mengikuti kehendak-Mu
tak akan kusebut namanya dalam do'a-do'aku
Akan kubuang jauh perasaan sesal di jiwa
kukuburkan dalam lubang kepengecutan tergelap
Tuhan ... kunanti karunia-Mu berikutnya
MUSIM BERGANTI MUSIM
... Lalu musim berganti musim. Ada saat gersang kemarau menyayat rasaku. Pohon-pohon meranggas dan daun-daun berguguran. Tanah terpanggang terbelah lukisan nuansa hati. Aku pasrah saat angin kemarau goyahkan pijakan, udara kering sesakkan rongga dada. Tapi kudapati juga rinai hujan menyirami rasaku. Pohon-pohon kembali menghijau serta dedaunan bersemi. Basah tanah menyuburkan lembah hati. Aku tertawa saat angin penghujan mengusap wajah, hawa dingin meresap di kalbu ...
... Semusim berakhir, semusim datang mengganti ...
... Aku jadi pengelana menyusuri lorong waktu. Berkeinginan melakukan penakhlukan tebing-tebing jiwa yang menjulang tinggi di setiap tempat. Kudaki satu demi satu hingga terengkuh hati yang bersinar indah di ruangnya. Kuheningkan wajah tersipu dengan magis sentuhan kalbu terlembut. Hayalan pun terbuai membangun mimpi-mimpi saat kabut masih menyelimuti. Ada batu sandungan yang menghadang. Sesaat kemudian tangis terisak lirih di sudut mata yang meredup. Sakit ... serasa sukma tercabut dari raga. Tapi maki tak kuasa terucap, dendam tak kuasa bersemayam. Sementara aku dibiarkan melenggang dengan memikul kesalahan yang terus terkumpul untuk penakhlukan selanjutnya. Lalu musim pun berganti musim ...
... Semusim berakhir, semusim datang mengganti ...
... Aku jadi pengelana menyusuri lorong waktu. Berkeinginan melakukan penakhlukan tebing-tebing jiwa yang menjulang tinggi di setiap tempat. Kudaki satu demi satu hingga terengkuh hati yang bersinar indah di ruangnya. Kuheningkan wajah tersipu dengan magis sentuhan kalbu terlembut. Hayalan pun terbuai membangun mimpi-mimpi saat kabut masih menyelimuti. Ada batu sandungan yang menghadang. Sesaat kemudian tangis terisak lirih di sudut mata yang meredup. Sakit ... serasa sukma tercabut dari raga. Tapi maki tak kuasa terucap, dendam tak kuasa bersemayam. Sementara aku dibiarkan melenggang dengan memikul kesalahan yang terus terkumpul untuk penakhlukan selanjutnya. Lalu musim pun berganti musim ...
Langganan:
Komentar (Atom)





